Lentik mata purnama
Terhalang awan bagian dariNya pula
Keindahan yang menagih kesabaran
Tak sempurna
Gumam sang hati kesal
Telah kutunggu turunNya dari fajar kala
Namun ternyata jauh
Tadinya hendak kubasuh
Lusuhnya
Biar gemerlap kembali utuh
Tersenyum melambai
Kalah mata terpejam pula
Kesal pasti mengintai
Menunggu lengah terkulai enyah
Lagi-lagi tak sampai
Aku belum usai
Lagi, lagi
Aku memita lagi
Kuingin sampai
Pada akhir
Sand1ku 21`
Dengarkan kisahnya
Perasaan jiwa yang tak sempat bercerita
Dan bersama
Tinggalkan langkahnya
Biarkan semua terurai apa maunya
Sang waktu berjalan
Tatapilah wajahmu
Terlihat matamu sayu tertunduk layu
Terbawa sesalan waktu
Semua rasa itu bukan untuk kau diam biarkan
Tanpa ada jalan cerita
Namun semua yang tercipta untuk kita rasakan
Tinggalkan keraguan masa
Lalu yang membunuh masanya ada
Nyata hanyalah hidup
Terang jua pernah redup
Jatuhlah lihat merunduk
Layu
Bersujud
Derai menetes
Salami segala yang terjadi
Hati
Diri
DalamNya hari
Sand1ku 21’
Kokohkan hatimu dengan keyakinan
Moga hidupmu diterangi cahayaNya
Yakini namamu adalah hakikatNya
Moga jalanmu seterangmu
Bila aku adalah keyakinan
Maka Kau adalah ketenangan
Bila nyata adalah hati
Maka Kaulah kuyakini
Bila hidup adalah aku
Maka Kaulah aku
Bila hidup adalah keinginan
Maka Kaulah simpulan
Bila kau
.
Bagaimana
Ya tidak apa
Bukankah aku jua aksenNya.
Sand1ku 21’
Takdir menantang
Tak hiraukan ku yang terus berperang
Ku tahu ini jalan-Mu
Tapi tak harus berliku
Tak harus berpilu
Menurutku
Keinginanku
Tidakkah Kau lihat…?
Jiwa yang nanar berharap
Raga yang kelu meratap
Dia jiwa yang lara
Dia raga yang luka
Tidakkah Kau rasa…?
Tentang aku?
Tentang deru?
Tentang haru?
Aku…
Pemain teater nyata
Protagonis tragis
Tak tertata
Terinjak habis
Dia…
Pemeran utama sang aku
Sempurna penyempurna
Untuk aku sang tuna
Tapi tak mengharap tahta
Urung tak berniat
Sesat…
Tak temui cahaya tuk tenangkan sang hikayat
Hanya berikan penat
Yang bermuara laknat
cH!_b d’be5t
Menurut Ibnu Sina, munculnya jiwa berasal dari persenyawaan elemen-elemen primer kehidupan di bawah pengaruh benda-benda langit. Menurutnya, yang pertama kali muncul adalah jiwa nabati, diikuti oleh jiwa hewani dan diakhiri oleh jiwa manusiawi. Semua itu tentunya berlangsung selaras dengan daya tampung masing-masing jiwa. Jiwa nabati didefinisikannya sebagai dasar pertumbuhan dan reproduksi, jiwa hewani sebagai dasar gerak (kehendak) dan penangkapan terhadap rangsangan partikular, dan jiwa manusiawi sebagai dasar pertimbangan, pemahaman dan pilihan terhadap hal-hal yang universal.
Sebagai akhir perjalanan biologis dan generatif, jiwa manusia mempunyai dua pokok bagian yang penting, yaitu teoretis dan praktis. Jiwa teoretis mempunyai empat subbagian, yakni potensial, habitual, actual, dan capaian. Keempat subbagian ini mewakili tingkatan perkembangan intelektual.
Tahapan lanjutan dari perkembangan intelektual diatas adalah tahapan mistis, yaitu tahapan yang akan tercapai apabila jiwa sudah “tak terbatas”, menjalin hubungan dengan intelek aktif sehingga bisa menangkap hal-hal universal tanpa melalui proses pembelajaran, tetapi cukup dengan intuisi. Ibnu Sina mengibaratkan tahap ini sebagai tahap profetis, tahap berfungsinya nalar suci, atau disebut juga tahap puncak kemampuan intelektual manusia, yang dapat mempersepsi aneka bentuk audiovisual dan mempengaruhi peristiwa fisik secara ajaib yang hanya ada pada para filosof dan nabi.
Sifat yang menonjol dari psikologi Ibnu Sina yaitu tatanan hierarkinya, yang didalamnya kemampuan yang rebdah selalu patuh pada kemampuan yang lebih tinggi. Maka dari itu, panca indera selalu patuh pada kemampuan batin, dan kemampuan batin selalu patuh pada kemampuan rasional. Sensus communis yang bertugas merakit data inderawi, tunduk pada daya citra, daya citra tunduk pada daya cipta, daya cipta tunduk pula pada daya tamping atau daya ingat. Panca indera yang terangsang oleh daya motif (penggerak) menunjukkan bahwasanya marah dan hasrat manusia dapat dengan mudah mengatur system motorik atau otot manusia.
Kebahagiaan dan kepuasan jiwa terlatak pada bagaimana kita mampu mempersepsikan keindahan dan kebaikan alam fikiran kita. Menurut Ibnu Sina, pada saat itulah jiwa dapat mencapai kebahagiaan sejati.
Tetapi Ibu Sina sadar betul akan kenyataan bahwa hanya segelintir orang yang dapat mencapai kebahagiaan sejati, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mungkin hanya para nabi dan filosof terpilih yang dapat merasakannya. Banyaknya orang yang tidak dapat mencapai kebahagiaan ini karena ketidaksiapannya secara alamiah maupun karena kelemahan dan kelalaiannya dalam mengarungi kehidupan dan menjalani dan meraih kehidupan intelektualnya. Jiwa
Pemikira Ibnu Sina ini sungguh merujuk pada hakikat manusia itu sendiri, yang ternyata raga tanpa adanya jiwa adalah mati. Tentang psikologi Ibnu Sina yang menganut tatanan hierarki, menurut saya paham ini membuat pemikirannya sedikit kehilangan keluwesannya, karena adanya sifat mengatas-bawahi yang seolah memiliki benteng yang kuat. Tetapi konsepnya tentang kebahagiaan sejati sangatlah bijaksana dan begitu mengisi hausnya keingintahuan kita tentang kebahagiaan sejati. Yang mungkin secara sederhana dapat diartikan bahwa kebahagiaan sejati pasti tercapai bila jiwa kita yang merasakannya, tentu raga pun akan merasakan kebahagiaan tersebut. Tetapi jika kebahagiaan raga yang terpenuhi terlebih dulu, belum tentu dapat membuat jiwa kita bahagia.
Sumber: www.parapemikir.com
Pengertian dan Pengenalan Cultivation Theory
Epistimologis dari cultivation adalah penanaman. Jadi Cultivation Theory atau Teori Kultivasi adalah sebuah teori dalam konteks keterkaitan media
Pada 1960 Profesor Gerbner melakukan penelitian tentang “indikator budaya” untuk mempelajari pengaruh televisi. Profesor Gerbner ingin mengetahui pengaruh-pengaruh televisi terhadap tingkah laku, sikap, dan nilai khalayak. Dalam bahasa lain, Profesor Gerbner memberikan penegasan dalam penelitiannya berupa dampak yang di timbulkan televisi kepada khalayak.
Teori Kultivasi berpandangan bahwa media
a. Pandangan Kultivasi tentang media
Teori Kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa para pecandu (penonton berat/heavy viewers) televisi membangun keyakinan yang berlebihan bahwa “dunia itu sangat menakutkan” . Hal tersebut disebabkan keyakinan mereka bahwa “apa yang mereka lihat di televisi” yang cenderung banyak menyajikan acara kekerasan adalah “apa yang mereka yakini terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari”.
Dalam hal ini, seperti Marshall McLuhan, Gerbner menyatakan bahwa televisi merupakan suatu kekuatan yang secara dominan dapat mempengaruhi masyarakat modern. Kekuatan tersebut berasal dari kemampuan televisi melalui berbagai simbol untuk memberikan berbagai gambaran yang terlihat nyata dan penting seperti sebuah kehidupan sehari-hari.Televisi mampu mempengaruhi penontonnya, sehingga apa yang ditampilkan di layar kaca dipandang sebagai sebuah kehidupan yang nyata, kehidupan sehari-hari. Realitas yang tampil di media dipandang sebagai sebuah realitas objektif.
Saat ini, televisi merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah rumah tangga, di mana setiap anggota keluarga mempunyai akses yang tidak terbatas terhadap televisi. Dalam hal ini, televisi mampu mempengaruhi lingkungan melalui penggunaan berbagai simbol, mampu menyampaikan lebih banyak kisah sepanjang waktu. Gebrner menyatakan bahwa masyarakat memperhatikan televisi sebagaimana mereka memperhatikan tempat ibadah (gereja). Lalu apa yang dilihat di televisi? Menurut Gerbner adalah kekerasan, karena ia merupakan cara yang paling sederhana dan paling murah untuk menunjukkan bagiamana seseorang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Televisi memberikan pelajaran berharga bagi para penontonnya tentang berbagai ‘kenyataan hidup’, yang cenderung dipenuhi berbagai tindakan kekerasan.
b. Fase riset Kultivasi
Menurut Baron dan Byrne terdapat tiga fase riset mengenai kultivasi, yaitu:
Fase Pertama adalah fase Bobo Doll, Fase pertama ini dirintis oleh Bandura dan kawan-kawannya yang mencoba meneliti apakah anak-anak yang melihat orang dewasa melakukan tindakan agresi juga akan melakukan agresi sebagaimana yang mereka lihat. Seratus anak-anak setingkat taman kanak-kanak dibagi ke dalam empat kelompok, dengan treatment yang berbeda. Satu kelompok pertama melihat seorang dewasa menyerang boneka balon Bobo Doll sambil berteriak garang, “Hantam! Sikat hidungnya!”. Kelompok kedua dari anak-anak tersebut melihat tindakan yang sama dalam film berwarna pada pesawat televisi. Kelompok ketiga juga melihat adegan film televisi, namun yang tidak menampilkan adegan kekerasan. kelompok terakhir, sama sekali tidak diberi akses menonton adegan kekerasan sama sekali. Setelah treatment tersebut setiap anak diberikan waktu untuk bermain selama 20 menit sembari diamati melalui kaca yang tembus pandang. Di ruangan bermain disediakan Bobo Doll dan alat-alat permainan lainnya, dan terbukti kelompok pertama dan kedua melakukan tindakan agresif, sebanayk 80 – 90 persen dari jumlah kelompok tersebut.
Fase kedua adalah fase penelitian laboratorium penelitian kultivasi yang mencoba mengganti obyek perilaku agresif secara lebih realitis, yaitu bukan lagi boneka plastik melainkan manusia. Adegan kekerasan diambilkan dari film-film yang dilihat para remaja yaitu film serial televisi The Untouchtables. Liebert dan Baron, yang melakukan penelitian generasi kedua ini di tahun 1972, membagi para remaja menjadi dua kelompok yaitu kelompok pertama melihat film The Untouchtables yang berisi beragam adegan kekerasan, dan yang kedua melihat adegan menarik dari televisi tapi tidak dibumbui adegan kekersan sama sekali. Kemudian mereka diberi kesempatan untuk menekan tombol merah yang dikatakan dapat menyakiti remaja yang berada di ruangan lain. ternyata kelompok pertama lebih banyak dan lebih lama menekana tombol merah daripada kelompok kedua.
Fase ketiga adalah fase riset lapangan (Baron dan Byrne dalam Rakhmat, 1999:234).dilakukan Layens dan kawan-kawan di Belgia tahun 1975. Perilaku agresif diamati pada situasi ilmiah bukan di laboratorium dan dengan jangka waktu yang lama. kegiatan obyek yang diteliti juga tidak diganggu sama sekali. Mereka dibagi kedalam dua kelompok, di mana kelompok pertama menonton
c. Karakteristik audience dalam Cultivation Theory
Lebih jauh dalam Teori Kultivasi dijelaskan bahwa pada dasarnya ada 2 (dua) tipe penonton televisi yang mempunyai karakteristik saling bertentangan/bertolak belakang, yaitu (1) para pecandu/penonton fanatik (heavy viewers) adalah mereka yang menonton televisi lebih dari 4(empat) jam setiap harinya. Kelompokpenontonini sering juga disebut sebagai kahalayak ‘the television type”, serta 2 (dua) adalah penonton biasa (light viewers), yaitu mereka yang menonton televisi 2 jam atau kurang dalam setiap harinya.
Dalam penelitian yang dilakukannya, Gerbner juga menyatakan bahwa cultivation differential dari media effect untuk dijadikan rujukan untuk membandingkan sikap penonton televisi. Dalam hal ini, ia membagi ada 4 sikap yang akan muncul berkaitan dengan keberadaan heavy viewers, yaitu:
1. Mereka yang memilih melibatkan diri dengan kekerasan
Yaitu mereka yang pada akhirnya terlibat dan menjadi bagian dari berbagai peristiwa kekerasan
2. Mereka yang ketakutan berjalan sendiri di malam hari
Yaitu merekayang percaya bahwa kehidupan nyata juga penuh dengan kekerasan, sehingga memunculkan ketakutan terhadap berbagai situasi yang memungkinkan terjadinya tindak kekerasan. Beberapa kajian menunjukkan bahwa untuk tipe ini lebih banyak perempuan daripada laki-laki.
3. Mereka yang terlibat dalam pelaksanaan hukum
Yaitu mereka yang percaya bahwa masih cukup banyak orang yang tidak mau terlibat dalam tindakan kekerasan.
4. Mereka yang sudah kehilangan kepercayaan
Yaitu mereka yang sudah apatis tidak percaya lagi dengan kemampuan hukum dan aparat yang ada dalam mengatasi berbagai tindakan kekerasan.
d. Analisis dan Dampak kultivasi
Zulkarnain Nasution memiliki pandangan bahwa salah satu dampak penayangan kejahatan di televisi adalah dapat memberikan inspirasi seseorang (khalayak) untuk melakukan kejahatan itu sendiri. Penulis memiliki anggapan bahwa dalam konteks inilah dapat dikatakan media
Media
Penelitian kultivasi menekankan bahwa media
Televisi, sebagaimana yang pernah dicermati oleh Gerbner, dianggap sebagai pendominasi “lingkungan simbolik” kita. Sebagaimana McQual dan Windahl (1993) catat pula, teori kultivasi menganggap bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari di sekitar kita, tetapi dunia itu sendiri. Gerbner (meminjam istilah Bandura) juga berpendapat bahwa gambaran tentang adegan kekerasan di televisi lebih merupakan pesan simbolik tentang hukum dan aturan.
Dengan kata lain, perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian di sekitar kita. Jika adegan kekerasan itu merefleksikan aturan hukum yang tidak bisa mengatasi situasi seperti yang digambarkan dalam adegan televisi, bisa jadi yang sebenarnya terjadi juga begitu. Jadi, kekerasan televisi dianggap sebagai kekerasan yang memang sedang terjadi di dunia ini. Aturan hukum yang bisa digunakan untuk mengatasi perilaku kejahatan yang dipertontonkan di televisi akan dikatakan bahwa seperti itulah hukum kita sekarang ini.
SUMBER:
http://catatan-orang-biasa.blogspot.com/2008/12/cultivation-theory.html
http://www.uky.edu/~drlane/capstone/mass/
www.kuliah komunikasi.com
Daftar Blog Saya
Text
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Labels
- Tugas PERTEKOM (3)
daftar link
Labels
- Tugas PERTEKOM (3)
Labels
- Tugas PERTEKOM (3)
.jpg)